Non Fiksi
PDAM Bangkrut : Awas Perang Air
Hati-hati! Inilah kata yang pas untuk tidak berkata AWAS!
Saat ini air olahan PDAM boleh jadi beracun. Air bakunya makin buruk dari tahun ke tahun akibat pencemaran. Bisa dikatakan PDAM mengolah air baku yang sama dengan air limbah sedangkan instalasinya cuma mampu mengolah kekeruhan. Pencemar seperti pestisida, logam berat, deterjen tak mampu ditanganinya. Airnya tak layak diminum, bahaya secara mikrobiologi dan kimia.
Sekarang ada 402 kabupaten/kota di Indonesia. Berarti ada sekian juga PDAM kita. Tapi sayang, 90% PDAM yang tergabung dalam Perpamsi (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia) ini sakit parah. Utangnya 4,3 triliun rupiah. Di Bandung, ini sekadar contoh, baru 53% yang terlayani. Di Jakarta, sejak 1991 sudah melibatkan korporasi asing Thames dari Inggris dan Lyonnaise dari Prancis, baru terlayani 49%. Itu pun tak bagus layanannya. Malah ada pelanggannya yang tak pernah dapat air sejak meter-airnya dipasang sampai sekarang. Juga ada yang digilir pada malam atau dini hari saja.
Adakah dampaknya? Banyak! Di antaranya: wabah penyakit menular lewat air (pemula) seperti tifus, disentri, diare dan muntaber. “Wabah” penyakit tak menular lewat air (petamula) akibat racun juga bisa terjadi. Asal racun ini dari pencemar dan zat kimia yang justru dipakai dalam pengolahan air. Itu sebabnya, PDAM harus ditata ulang. Direparasi, direformasi.
Usulan buku ini ialah pola tata-piramid, yaitu dasar piramid berupa pilar P (Pegawai), D (Desain), A (Area servis), dan M (Manajemen). Masing-masing didetail dalam bab khusus. Lalu lantai piramid dibagi menjadi empat sektor yang terdiri atas: PAM swasta, amik (air minum kemasan), amiku (air minum kemasan ulang atau isi ulang), dan mitra antara PDAM dan swasta.
Adapun empat sisinya mewakili Trilogi AIR, yaitu A = Aman, I = Isi, R = Rutin. Sisi satunya lagi ialah T = Tarif dan puncaknya K = konsumen (pelanggan). Sedangkan lingkungan piramid ialah pemerintah (pusat dan daerah) serta DPR dan DPRD yang tergabung dalam stakeholders PDAM.
Poin-poin itulah fokus dari buku yang dikatapengantari oleh Ketua Dewan Pakar DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita, seorang dosen Teknik Kimia ITB.
Tidak tersedia versi lain